Breaking News
Loading...
Sunday, December 21, 2014

Sejarah Kota Kendari dan Budayanya

1:53 AM


Sejarah Kota Kendari dan Budayanya
Sejarah Kota Kendari, Adat dan Budayanya masyarakat Tolaki. Kota kendari adalah kota yang terletak di Sulawesi Tenggara. Wilayah daratannya berbukit-bukit sampai ke pesisir pantai. Sebagai ibukota dari Provinsi Sulawesi Tenggara, Kota Kendari terletak di 3º54’30” – 4º3’11” LS dan 122º23’ – 122º39’ BT dengan luas sekitar 295,89 km². 

Baca juga: Kisah pulau sagori wisata bombana

Wilayah Kota Kendari berbatasan dengan: 

1. Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe di sebelah Utara.

2. Laut Kendari di sebelah Timur.

3. Kecamatan Moramo, dan Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan di sebelah Selatan.

4. Kecamatan Ranomeeto (Kabupaten Konawe Selatan) dan Kecamatan Sampara (Kabupaten Konawe).

Dengan ketingian rata-rata 30 mdpl, Kota Kendari merupakan wilayah beriklim tropis. Suhu udara di Kota Kendari berkisar antara 19,58°-32,83°C dengan suhu rata-rata sekitar 26,20°C. Kota Kendari mengalami musim hujan sekitar bulan November hingga Maret dan musim kemarau sekitar bulan Mei hingga September. Sedangkan di bulan April dan Oktober, Kota Kendari mengalami musim peralihan atau disebut juga musim pancaroba. Pada musim ini, arus angin tidak menentu dan hujan yang turun tidak merata.

Kota Kendari memiliki 64 Kelurahan dari 10 Kecamatan, antara lain:

- Kecamatan Abeli dengan ibukota Abeli.

- Kecamatan Baruga dengan ibukota Baruga.

- Kecamatan Kendari dengan ibukota Kendai.

- Kecamatan Kendari Barat dengan ibukota Benu-benua.

- Kecamatan Mandonga dengan ibukota Mandonga.

- Kecamatan Poasia dengan ibukota Andounohu.

- Kecamatan Kadia dengan ibukota Kadia.

- Kecamatan Wua-wua dengan ibukota Wua-wua.

- Kecamatan Kambu dengan ibukota Kambu.

- Kecamatan Puwatu dengan ibukota Puwatu.

Sejarah Kota Kendari

Peta Kota Kendari
Kota Kendari dimasa Pemerintahan kolonial Belanda merupakan ibukota kewedanan dan ibukota Onder Afdeling Laiwoi yang luas wilayahnya kurang lebih 31,420 Km2. Sejalan dengan dinamika perkembangan sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan laut antar pulau, maka Kendari terus tumbuh menjadi ibukota Kabupaten dan masuk dalam Propinsi Sulawesi Selatan Tenggara. 

Menurut sejarah, Kota Kendari sudah ada sejak abad ke-19 sebagai ibukota Kerajaan Laiwoi. Kota Kendari menjadi sebuah kota perdagangan dengan dibukanya pelabuhan perdagangan di Teluk Kendari oleh pemerintah Belanda. Bidang perdagangan kemudian berkembang karena keahlian berdagang Suku Bugis dan Suku Bajo yang bermukim di sekitar Teluk Kendari.

Dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 terbentuklah Propinsi Sulawesi Tenggara dan Kendari ditetapkan sebagai ibukota propinsi yang terdiri atas 2 (dua) wilayah kecamatan yakni Kecamatan Kendari dan Kecamatan Mandonga dengan luas wilayah 76,76 Km2.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1978 Kota Kendari ditetapkan menjadi Kota Administratif dan berkembang menjadi 3 (tiga) wilayah kecamatan dengan luas wilayah 187,990 Km2 yang meliputi Kecamatan Kendari, Kecamatan Mandonga dan Kecamatan Poasia.

Selama terbentuknya Kota Administratif Kendari, berturut-turut menjadi Walikota ialah:

1. H. MANSYUR PAMADENG Tahun 1978 - 1979

2. Drs. H.M. ANTERO HAMPA Tahun 1980 - 1985

3. Drs. H. ANAS BUNGGASI Tahun 1985 - 1988

4. H. ADY MANGILEP selaku pelaksana tugas Tahun 1988 - 1991

5. Drs. A. KAHARUDIN selaku pelaksana tugas Tahun 1991 - 1992

6. Drs. H. USMAN SABARA selaku pelaksana tugas Tahun 1993

7. Drs. H. LM SALIHIN SABORA Tahun 1993 - 1995

8. Kol. (Inf) A. RASYID HAMZAH selaku pelaksana tugas Tahun 1995

Melalui perjuangan yang cukup panjang dan tekad warga kota yang menginginkan Kota Administratif Kendari menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II sebagai daerah otonom, maka dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1995 tanggal 3 Agustus 1995 Kota Administratif Kendari berubah status menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Kendari yang diresmikan oleh Bapak Menteri Dalam Negeri pada tanggal 27 September 1995 dan tanggal ini pula ditetapkan sebagai hari lahirnya Kotamadya Daerah Tingkat II Kendari.

Dengan terbentuknya Kotamadya Daerah Tingkat II Kendari, maka sebagai Walikotamadya KDH. Tk. II Kendari diangkat Drs. LASJKAR KOEDOES sebagai Pj. Walikotamadya KDH. Tk. II Kendari sejak 27 September 1995 - 27 September 1996. Selanjutnya, seiring berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, maka istilah Daerah Tingkat II dan Kotamadya berubah menjadi Kabupaten dan Kota sehingga Kota Kendari menjadi daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri.

Arti Logo Kota Kendari

Arti Logo Kota Kendari
Logo Kota Kendari Berbentuk perisai segilima samasisi  yang bermakna bahwa pemerintah daerah dan masyarakatnya dalam menyelenggarakan pembangunan dijiwai dan bernapaskan asas Pancasila. Pada logo tersebut terdapat bagian-bagian yang merupakan simbol-simbol sebagai berikut:

 1.  Gong melambangkan sejarah masa lalu yang bermakna kekeluargaan dan kegotong-royongan. Bahwa pemerintah dan rakyat selalu seirama dalam menentukan gagasan kebutuhan hidup masyarakat.

2. Pilar melambangkan masa kini/zaman pembangunan yang bermakna kekuatan hidup, kemasyarakatan melalui pembangunan dalam segala aspeknya. Tangga berteras enam yang menggambarkan nomor undang-undang pembentukan Kota Kendari yaitu tahun 1995 nomor 6. Tiang pilar bagian luar bergerigi sembilan dan dalamnya bergerigi lima yang menggambarkan tahun pembentukan Kota Kendari yaitu tahun 1995.

3. Kubah melambangkan kebudayaan daerah yang bermakna kejayaan yang gilang gemilang bagi warga masyarakat.

4. Kalosara melambangkan kebudayaan daerah yang bermakna kejayaan masyarakat Kotamadya Kendari dijiwai oleh kesatuan dan persatuan.

5. Bintang melambangkan keimanan dan ketaqwaan serta wawasan keilmuan bagi masyarakat yang menjiwai dan memberi semangat bagi segala gerak masyarakat dalam kehidupan yang jaya itu.
6. Padi dan Kapas melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan yang bermakna cukup makan, cukup sandang, cukup papan sebagai manifestasi potensi alam yang kaya diaktualisasikan melalui kerja keras dan penggunaan ilmu dan teknologi.

Arti Warna-Warna Dalam Logo Kota Kendari Melambangkan

1. Warna biru laut (warna dasar logo) menggambarkan suasana kesejukan dan ketentraman serta pandangan yang jauh kedepan.

2. Warna hitam pada gong menggambarkan suasana kehidupan yang mantap dan stabil tidak goyah.

3. Warna putih pada pilar-pilar menggambarkan bahwa pembangunan yang kini dilancarkan berdasar pada pandangan kesucian, kemurnian dan keadilan sebagai tuntutan kehidupan yang didasari oleh ajaran-ajaran agama.

4. Warna kuning emas pada kubah maupun bintang menggambarkan kekuasaan, kejayaan, keindahan dan keharuman yang menyelimuti kehidupan masyarakat yang merupakan tujuan akhir dari kehidupan manusia di bumi ini.

6. Warna kuning-putih-hijau pada padi dan kapas bermakna bahwa suasana kehidupan yang makmur dan sejahtera senantiasa diliputi oleh suasana kehidupan yang lestari, tumbuh berkembang dan berkesinambungan.

7. Warna merah pada tulisan Kota Kendari melambangkan semangat keberanian yang menggelora pemerintah dan masyarakat dalam membangun segala aspek kehidupan masyarakat Kota Kendari.

Budaya Kota Kendari

Dengan jumlah penduduk sekitar 289.468 jiwa (sensus penduduk tahun 2010), mayoritas penduduk Kota Kendari memeluk agama Islam. Kota Kendari dihuni oleh masyarakat dari Suku Tolaki, Suku Muna, Suku Buton, dan Suku Bugis. Sedangkan penduduk asli Kendari berasal dari Suku Tolaki. Kebudayaan yang dimiliki Kota Kendari mayoritas bersumber dari kebudayaan Suku Tolaki.

Tari Lulo ( Tari Pergaulan)

Tari Lulo ( Tari Pergaulan)
Tari Lulo adalah tari pergaulan khas Sulawesi Tenggara yang juga populer di Kota Kendari. Tarian ini biasanya dilakukan oleh kawula muda sebagai ajang perkenalan. Kini Tari Lulo juga kerap disuguhkan saat ada tamu kehormatan sebagai tanda persahabatan antara warga Kota Kendari dengan pendatang, dalam hal ini wisatawan.

Gerakan Tari Lulo tidaklah serumit tarian tradisonal lain. Para penarinya saling berpegang tangan satu sama lain membetuk lingkaran yang saling menyambung. Dalam sebuah acara besar yang dihadiri pengujung dari luar Kota Kendari, para penari Lulo selalu mengajak tamu dengan ramah untuk ikut menari. Setiap tamu yang tidak bisa menari akan dianjarkan cara melangkah atau menari ala Tari Lulo oleh penari yang mengajaknya hingga terbiasa.

Tari Lulo ini pun kerap ditampilkan pada Festek. Bahkan pada perayaan tersebut, tari ini pernah ditampilkan secara kolosal dengan mengikutsertakan warga kota dan wisatawan yang datang

Tari Monotambe (Tari Penjemputan)

Tari Monotambe (Tari Penjemputan)
Tari Monotambe atau tari penjemputan misalnya merupakan tarian khas Suku Tolaki yang kerap ditampilkan saat ada event berskala besar untuk menjemput tamu besar. Misalnya saat pembukaan Festival Tekuk Kendari (Festek) yang kerap dihadiri beberapa tamu penting dari Jakarta dan daerahlain. Sebagai catatan Suku Tolaki merupakan penduduk asli Kota Kendari sebagaimana Suku Betawi di Kota Jakarta.

Tarian ini dilakoni oleh 12 penari perempuan muda dan 2 penari lelaki sebagai pengawal. Para penari perempuanyya mengenakan busana motif Tabere atau hiasan, sarung tenun Tolaki, dan aksesoris seperti Ngaluh atau ikat kepala, dan kalung. Dalam tarian berdurasi sekitar 5 sampai 10 menit ini, beberapa penari perempuan membawa Bosara atau bokor dari rotan, sedangkan dua penari lelakinya memegang senjata tradisional.

Adat dan Kebudayaan Masyarakat Tolaki

Dalam perjalanan sejarah Kerajaan Konawe yang berkedudukan di Unaaha pernah menerapkan perangkat pemerintahan yang dikenal dengan SIWOLE MBATOHU sekitar tahun 1602/1666 yaitu :

1. Tambo I ´Losoano Oleo

2. Tambo I´ Tepuliano Oleo

3. Bharata I´Hana

4. Bharata I´ Moeri

Ditengah-tengah kehidupan sosial kemasyarakatan mereka terdapat satu simbol peradaban yang mampu mempersatukan dari berbagai masalah atau persoalan yang mampu mengangkat martabat dan kehormatan mereka disebut: “KALO SARA” serta kebudayaan Tolaki ini yang lahir dari budi, tercermin sebagai cipta rasa dan karsa akan melandasi ketentraman, kesejahteraan kebersamaan dan kehalusan pergaulan dalam bermasyarakat.

Didalam berinteraksi sosial kehidupan bermasyarakat terdapat nilai-nilai luhur lainnya yang merupakan Filosofi kehidupan yang menjadi pegangan , adapun filosofi kebudayaan masyarakat tolaki dituangkan dalam sebuah istilah atau perumpamaan, antara lain sebagai berikut :

1. Budaya O’sara (Budaya patuh dan setia dengan terhadap putusan lembaga adat)

Masyarakat Tolaki adalah masyarakat lebih memilih menyelesaikan secara adat sebelum dilimpahkan/diserahkan ke pemerintah dalam hal sengketa maupun pelanggaran sosial yang timbul dalam masyarakat tolaki, misalnya dalam masalah sengketa tanah, ataupun pelecehan. Masyarakat tolaki akan menghormati dan mematuhi setiap putusan lembaga adat. Artinya masyarakat tolaki merupakan masyarakat yang cinta damai dan selalu memilih jalan damai dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

2. Budaya Kohanu (budaya malu)

Budaya Malu sejak dulu merupakan inti dari pertahanan diri dari setiap pribadi masyarakat tolaki yang setiap saat, dimanapun berada dan bertindak selalu dijaga, dipelihara dan dipertahankan. Ini bisa dibuktikan dengan sikap masyarakat Tolaki yang akan tersinggung dengan mudah jika dikatakan , pemalas, penipu, pemabuk, penjudi dan miskin, dihina, ditindas dan sebagainya. Budaya Malu dapat dikatakan sebagai motivator untuk setiap pribadi masyarakat tolaki untuk selalu menjadi lebih kreatif, inovatif dan terdorong untuk selalu meningkatkan sumber dayanya masing-masing untuk menjadi yang terdepan.

3. Budaya Merou (Paham sopan santun dan tata pergaulan)

Budaya ini merupakan budaya untuk selalu bersikap dan berperilaku yang sopan dan santun, saling hormat-menghormati sesama manusia. Hal ini sesuai dengan filosofi kehidupan masyarakat tolaki dalam bentuk perumpamaan antara lain sebagai berikut:

 “Inae Merou, Nggoieto Ano Dadio Toono Merou Ihanuno” 

Artinya :
Barang siapa yang bersikap sopan kepada orang lain, maka pasti orang lain akan banyak sopan kepadanya.

“Inae Ko Sara Nggoie Pinesara, Mano Inae Lia Sara Nggoie Pinekasara” 

Artinya :
Barang siapa yang patuh pada hukum adat maka ia pasti dilindungi dan dibela oleh hukum, namun barang siapa yang tidak patuh kepada hukum adat maka ia akan dikenakan sanksi / hukuman

“Inae Kona Wawe Ie Nggo Modupa Oambo”

Artinya :
Barang siapa yang baik budi pekertinya dia yang akan mendapatkan kebaikan

4. Budaya “samaturu” “medulu ronga mepokoo’aso” (budaya bersatu, suka tolong menolong dan saling membantu)

Masyarakat tolaki dalam menghadapi setiap permasalahan sosial dan pemerintahan baik itu berupa upacara adat,pesta pernikahan, kematian maupun dalam melaksanakan peran dan fungsinya sebagai warga negara, selalu bersatu, bekerjasama, saling tolong menolong dan bantu-membantu .

5. Budaya “taa ehe tinua-tuay” (Budaya Bangga terhadap martabat dan jati diri sebagai orang tolaki)

Budaya ini sebenarnya masuk kedalam “budaya kohanu” (budaya malu) namun ada perbedaan mendasar karena pada budaya ini tersirat sifat mandiri,kebanggaan, percaya diri dan rendah hati sebagai orang tolaki .

Kehidupan masyarakat di Kota Kendari Khususnya dan Sulawesi Tenggara Umumnya bukan hanya dipengaruhi oleh nilai-nilai luhur suku bangsa Tolaki tetapi juga oleh masyarakat suku lainnya yang berada di “bumi anoa”, kesemuanya menjadi daya perekat dalam kehidupan bemasyarakat di daerah ini .kerukunan antar ummat beragama juga memberi warna tersendiri ditengah- tengah kepercayaan dan keyakinan untuk menyerahkan diri kepada Tuhannya masing-masing.



Sumber referensi: www.kemendagri.co.id
                                 www.gocelebes.com

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer